Jakarta-CTARSA Foundation menggelar Webinar Sinergi Season 3 yang menghadirkan Indra Rudiansyah, Tim Peneliti Vaksin Astra Zeneca dari Universitas Oxford Inggris. Indra mengisahkan mimpinya untuk bisa memberi manfaat kepada masyarakat luas melalui kemampuan yang dimilikinya, mendorongnya untuk mengajukan diri sebagai tim peneliti vaksin Astrazeneca dalam Jenner Institute yang dipimpin oleh profesor Sarah Gilbert (11/6/2022).

Dalam webinar yang bertema ‘Kisah Inspiratif Generasi Milenial di Kancah Internasional’, dihadiri oleh ratusan peserta tersebut mengupas tuntas kiprah Indra, kandidat doktor dari program Clinical Medicine, Jenner Institute, Universitas Oxford. Dalam pengembangan Vaksin Astra Zeneca yang dilakukan saat masa lockdown, dibutuhkan sumber daya manusia yang banyak dan metode-metode penelitian yang cukup beragam. Dengan metode LISA yang ia kuasai untuk studi respon, Indra terpilih di posisi tim peneliti antibodi respons untuk mengukur anti bodi manusia dan membuktikan vaksin yang diuji memberikan proteksi dari infeksi penyakit COVID-19 atau tidak.

“Dalam tim Uji Klinis, saya fokus menggunakan metode LISA. Saya mungkin pernah menggunakan banyak metode dalam berbagai penelitian yang saya lakukan, namun dalam tim Uji Klinis pembuatan Vaksin Astra Zeneca, saya dipercaya untuk menggunakan metode LISA. Kami berpacu dengan waktu, meskipun waktu pembuatan vaksin tidak lama seperti vaksin-vaksin lainnya namun teknologi dibelakangnya sudah di research beberapa dekade sebelumnya dengan berbagai model penyakit, membuat vaksin ini aman untuk memproteksi diri dari transmisi virus Corona” pungkasnya.

 

 

Antusias Peserta Dalam Webinar Sinergi Season 3 (Doc. CTARSA Foundation)

Disisi lain Indra memaparkan, kemampuan dan pengetahuan mahasiswa Indonesia di bidang vaksin dan bioteknologi tak kalah dengan para mahasiswa diluar negeri, namun bedanya hanyalah akses teknologi. Koneksi dan kolaborasi adalah salah satu kunci mahasiswa Indonesia bisa mengakses teknologi dan sains terkait pembuatan vaksin di universitas-universitas di luar negeri.

“Dengan kolaborasi, memungkinkan kita mengakses teknologi dan sains terkait vaksin di Indonesia. Kolaborasi bisa dilakukan dengan kolaborasi university to university, institution to institution and government to government akan lebih fleksibel dan memangkas birokrasi dan mempermudah untuk merealisasikan akses teknologi. Sehingga hal yang penting adalah building conection atau membangun koneksi,” tegasnya.

Mengembangkan Sifat Selalu Ingin Tahu dan disiplin yang Tinggi, Indra Sukses Menekui Bidang Vaksin.

Indra Rudiansyah, pria yang berasal dari keluarga biasa, namun keinginannya untuk mengembangkan ilmu terkait vaksin cukup besar. Indra mulai tertarik dibidang vaksin saat duduk di SMA, ia diikutkan oleh gurunya disebuah kompetisi membuat vaksin yang digelar Biofarma. Ia melanjutkan rasa ingin tahu yang tinggi dibidang vaksin dengan mengambil jurusan Mikrobiologi di Universitas Teknologi Bandung (ITB) tahun 2009 hingga 2013. Rasa ingin tahu yang tinggi tentang vaksin, membuatnya ingin melanjutkan studi Magister dan Doktoral. Namun, ia menyadari keterbatasan finansial orang tuanya sehingga ia memutuskan untuk disiplin belajar dan mencari beasiswa agar bisa melanjutkan studinya.

 

Profile Indra Rudiansyah, Narasumber Webinar Sinergi Season 3 (Doc. CTARSA Foundation)

“Di Indonesia memang saya cukup beruntung karena saya dibiayai orang tua saya hingga S1. Namun untuk melanjutkan  S2 dan S3, saya mulai merefleksikan diri karena sedikit immposible meminta ayah saya yang hanya seorang guru untuk membiayai saya untuk studi lanjut. Dengan giat mencari informasi dan belajar yang disiplin serta mempersiapkan berbagai hal untuk beasiswa akhirnya saya berhasil mendapatkan beasiswa untuk studi lanjut,” pungkasnya ditengah sesi webinar.

Indra tercatat penerima BU Fast Track beasiswa untuk program master dari Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi 2013 untuk melanjutkan S2 di ITB, jurusan Bioteknologi. Kemudian ia juga penerima beasiswa LPDP untuk program doktoral di Clinical Medicine, Universitas Oxford Inggris. Disiplin menyipakan berbagai berkas untuk beasiswa juga wajib dilakukan agar memperoleh beasiswa yang diinginkan.

“Dengan kemudahan akses informasi di internet dan disiplin menyiapkan berbagai hal untuk keperluan beasiswa. Untuk pengajuan beasiswa ke luar negeri maka keperluan yang wajib di perhatikan adalah kemampuan Bahasa Inggris dengan IELTS 6,5 untuk negara-negara di eropa, motivation letter, dan rencana penelitian yang diambil".

Di akhir, Indra berpesan kepada para peserta webinar serta seluruh generasi muda Indonesia untuk tetap berkontribusi dengan apapun bidang yang kalian tekuni. Karena kontribusi setiap orang sangat bermakna untuk kemajuan bangsa Indonesia. Kegiatan Webinar Sinergi Season tiga terselenggara berkat berjasama CTARSA Foundation dengan SMA Unggulan CTARSA Foundation Deli Serdang, SMA Unggulan CTARSA Foundation Sukoharjo, Alumni SMA Unggulan CTARSA Foundation, Komunitas ARSA, Detik.com dan CNBC Indonesia (Ncmah)

Penulis: Nikmatus Sholikah | Editor: Gatut Mukti